Biang Macet & Bisnis Pembiayaan

Diposting oleh adi_true | Rabu, September 30, 2009 | | 0 komentar »

Pengendara mobil, sudah tidak tabu lagi naik ojek untuk mengejar rapat di tempat yang lain. Polisi sudah tidak berdaya untuk menegakkan hukum dengan melarang pengendara melewati jalurTransJakarta(busway).

Loh ini tulisan apa sih. Mau ngomong bisnis apa soal sosialita Ibukota? Sabar pembaca. Tiba-tiba penulis bertemu dengan teman sejawat yang baru saja beli sepeda motor Mio. Dia heran, punya duit untuk beli tunai, akhirnya justru memilih beli kredit. Masalahnya, sang pedagang bilang, kalau beli sistem kredit, besok motor diantar. Warna hitam yang dipilihnya dua unit, siap diantar. Kalau beli tunai? "Saya disuruh indent, nunggu sebulan baru bisa dikirim. Sudah gitu ndak janji lagi katanya. Sama saja tidak boleh beli cash," kata teman.

Di hari yang lain, seorang sales sebuah dealer mobil mewah CBU (completely built up) menyampaikan mau pindak kerja ke penjualan mobil biasa, bukan CBU. Masalahnya, di mobil mewah dia dapat komisi sedikit dan sekali saja, karena pembelinya selalu cash/tunai. Sedang di mobil biasa seperti Kijang, Terios, Rush, APV dll pembelinya sebagian besar dengan cara kredit yang ditopang lembaga pembiayaan/bank sehingga komisi bunganya menurut dia lumayan.

Lalu apa hubungan kedua cerita di atas dengan kemacetan Jakarta. Kalau mau jujur, dan terus terang, salah satu penyebab kemacetan adalah efek bisnis model yang dilakukan lembaga pembiayaan/bank. Walau sebagai penyebab, tapi mereka tak pernah jadi tersangka kemacetan Jakarta! Meski bisa jadi sebagai salah satu biang, tapi inilah risiko sebuah bisnis model.



Bisnis Model


Di era saat ini, pilihan bisnis model memang sangat-sangat luas. Ada saja ceruk kreativitas yang sepertinya berada di luar pikiran kita, ada sesuatu peluang, yang orang lain mungkin tidak membacanya. Sebuah bisnis model, bisa mengubah suasana yang semula lesu jadi eforia.

Bila dahulu untuk membeli sepeda motor selalu dengan tunai, atau kalau kredit uang mukanya minimal sampai 40%. Itupun dengan syarat sudah kenal baik sama dealer. Sekarang, hampir semuanya kredit. Cukup dengan Rp 500 ribu sudah bawa motor pulang. Bahkan banyak yang mengedarkan sepedamotor keliling ke kampung-kampung seperti halnya jualan gado-gado dorong. Karena uang muka yang murah dan cicilan ringan, meski harus bayar dalam tempo lama, tidak masalah. Yang penting murah (DP-nya), mudah (syaratnya), cepat (prosesnya), dan tidak peduli punya utang lama.

Begitu juga mobil. Dengan duit di kantor cukup Rp 10 juta saja, sudah bisa bawa mobil baru yang kelas menengah ke bawah. Kalau dulu tidak minimal 30% uang muka (down payment/DP), sekarang 10% juga bisa. Agunannya, gampang, bukti slip gaji dan SK karyawan. Bahkan mungkin ada yang lebih ringan dari itu.


Tengok saja, berapa mobil terjual menurut Gaikindo pada tahun 2007. Ternyata sebesar 432 ribu unit. Tahun sebelumnya 318 ribu unit. Malah membanggakan: penjualan melampaui target. Sebagian besar sekitar 40%-nya terjual untuk kawasan "Great Jakarta" alias Jabodetabek. Kalau setiap mobil luasnya kira-kira 4m persegi, hanya untuk 2 tahun terakhir saja sudah dibutuhkan lahan seluas 3.000.000 m persegi (300 ha).

Memang pak DLLAJR atau Polisi tidak bergesekan sama sekali dengan lembaga pembiayaan/bank dalam urusan kredit ini. Namun, karena sebuah bisnis model tidak terbayangkan bisa menjadi salah satu penyebab kemacetan. Bisnis model penjualan langganan lagu di handphone yang gratis dulu bayar kemudian/bulan kedua. Yang mana ketika di bulan-bulan berikutnya akan dikenakan otomatis perpanjangan sebagai subscriber sampai pengguna/subscriber lupa lagi bagaimana cara menonaktifkannya.

Bisnis model memang semakin banyak dan sanga-sangat dimungkinkan di era sekarang ini. Dan, bukan tidak mungkin efek dari bisnis model sering tidak pernah diduga, menimbulkan masalah di kemudian hari secara tidak terduga yang bisa menyenangkan dari sisi revenue tapi ada efek harga sosial yang harus dibayar yang tidak serta merta menjadi beban bagi perancang maupun pelaksana bisnis model itu sendiri.
Sapto Anggoro - detikPublishing

Jadi inget dengan Krisis Keuangan di AS 2007 sd. sekarang... sumber masalahnya  berasal dari pembiayaan /kredit. Emm memang liberal kapitalis tinggal menunggu kejatuhannya. Eh tapi kok kita malah pengen ikut - ikutan  jatuh. Padahal dah terbukti sistem ekonomi liberal kapitalis gatot alias gagal total.

Tentukan Perubahan - Jangan Menunggu!

Diposting oleh adi_true | Kamis, September 24, 2009 | | 0 komentar »


Dear Friends,

Banyak orang yang suka mengeluh dalam
hidupnya. Misalnya, dengan menyalahkan
nasib buruk yang menimpanya.

Tentu saja cara ini tidak akan pernah menjadikan
kehidupannya menjadi lebih baik, bukan?

Ada pepatah bijak mengatakan :

"You can not chance the wind direction,
but you can only chance your wing
direction"

Kita tidak akan pernah bisa merubah
arah angin, yang dapat kita lakukan
adalah mengubah arah sayap.

Dengan kata lain...

'Realita' kehidupan tidak akan berubah
kecuali kita sendirilah yang mengubah
'sudut pandang' terhadap realita yang ada!

Fakta: "Tidak ada seorang pun yang
memilih kita untuk sukses. Kita sendirilah
yang menentukan pilihan tersebut!"

Kebanyakan orang akan tertarik sejenak
ketika diingatkan akan hal di atas, tapi
kemudian berlalu kembali.... Sementara
waktu terus berjalan, dan akhirnya tidak
pernah ada perubahan dalam hidupnya!

Sangat disayangkan.

Seringkali orang tidak berani melakukan
perubahan dalam hidupnya. Dia hanya
menunggu, dan menunggu adanya
perubahan tersebut.

Menunggu bantuan orang lain, menunggu
bantuan teman untuk mendapatkan
pekerjaan yang enak, sampai menunggu
warisan ;-)

Sekarang logikanya, jika memang hanya
dengan menunggu perubahan itu akan
datang, maka jumlah orang sukses
seharusnya jauh lebih banyak.

Bukankah kenyatannya tidak demikian?

Lalu, jika ingin sukses, apa yang
seharusnya kita lakukan?

Ciptakan perubahan!

Jangan selalu menunggu orang lain.

Berikut beberapa tips yang bisa membantu
kita untuk menciptakan perubahan:

1. Do your best, whatever happens
will be for the best!

Lakukan dan selesaikan semua tugas
dan pekerjaan semaksimal mungkin,
bukan hanya terus menunggu dan
berharap.

Lakukan semuanya dengan tujuan
untuk selalu mendapatkan hasil *terbaik*
yang bisa dicapai!

2. Mulai buat jaringan seluas-luasnya.

Dengan banyak mengenal orang,
maka pengetahuan kita akan semakin
bertambah.

Seseorang yang kelihatannya sederhana
bisa jadi menyimpan kedalaman ilmu
yang tidak kita duga!

Oleh sebab itu, alangkah bijaknya jika
kita menjadikan 'setiap orang adalah guru'
dan kehidupan ini adalah universitasnya.

3. Berusahalah selalu untuk bersikap proaktif.

Sikap ini sangat diperlukan jika ingin
mendapatkan kesempatan yang lebih
luas dan cepat dalam berbagai macam hal!

4. Bersikaplah Fleksibel.

Cobalah untuk memahami suatu hal
dari berbagai sudut pandang. Jangan
terpaku pada satu cara, yang bisa jadi
tidak lagi relevan kita gunakan.

Dengan bersikap fleksibel, wawasan
kita akan semakin bertambah.

Satu hal penting yang harus selalu diingat:
Kita-lah yang memutuskan untuk berubah.
Kita-lah yang menentukan menjadi sukses,
bukan orang lain!

Jika pilihan sukses tidak pernah kita ambil,
maka orang lain akan mengambil pilihan tersebut.
Dan, kita akhirnya hanya akan menyaksikan
kesuksesan mereka, tanpa pernah merasakannya...

Bukankah Anda tidak berharap demikian?
Jika memang tidak, tentukan perubahan...
MULAI HARI INI. Jangan terus menunggu! ^_^

Sukses :-)
Ditulis oleh: Anne Ahira